Kembali ke Beranda

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Terbit pada: 16 May 2026

Sekitar penghujung abat IX, menjelang pertengahan abat ke - X penduduk Rokan Sekarang masih belum mempunyai ketetapan perkampungan atau Negeri. Kelompok manusia ini berasal dari semenanjung atau Malaya memasuki sungai Rokan yang bermuara di Bagan Si Api�api. Hidup mereka dari tahun ketahun berpindah�pindah, sebab keadaan tanah Berawa- rawa, Sungai Rokan dalam dan sering meluap. Menyusur sepanjang Sungai Rokan terus jauh kehulu dalam arti kata mencari tanah beku dan memasuki Sungai Batang Sosah terus pula Berpindah�pindah hingga sampailah disuatu tempat yang bernama Karang Besar. Puluhan tahun kemudian dari perkembangan penduduk, perumahan dan masyarakat mulai diatur. Keadaan tanahnya subur untuk perladangan, sungai dan danaunya kaya akan ikan, rimba belantara tempat berburu rusa dan binatang lainnya. Hidup aman damai berjalinkan rasa kekeluargaan dan setiap usaha yang agak berat dipikul bersama dengan pengertian gotong royong yang masih murni belaka. Silang sengketa, kemuskilan, segala sesuatu rencana usaha terlebih dahulu melalui permusyawarah beberapa orang cerdik pandai yang lazim disebut Datuk�datuk, permusyawaratan dan beberapa upacara negeri senantiasa dilangsungkan dirumah salah seorang datuk yang arif lagi bijaksana, dihormati dan disayangi penduduk. Sebagai suatu keistimewaan ialah bendul, rumahnya berukir demikian rupa dari pada kayu Aro. Oleh karena itu dengan sendirinya disebut rumah datuk Bendul Aro. Lama kelamaan menjadi datuk Benduaro [Bendaharo]. Pucuk pimpinan kerapatan Negeri menyusun dan mengendalikan masyarakat dalam proses perkembangannya. Barang siapa yang datang dari negeri atau daerah lain disambut baik dan oleh Datuk Bendaharo diberi petua dan nasehat seperlunya yang kesimpulannya� Pelihara dan hormatilah kebiasan penduduk, sebab lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya�. Pada suatu hari sebagai salah satu kegemaran dan kebiasan dimusim kemarau panjang, penduduk Ramai�ramai pergi� Mengacau� danau menangkap ikan. Pemuda pemudi ambil bagian menambah meriahnya suasana. Dekat kampong Karang Besar ada suatu danau- paya/Bencah yang dimusim penghujan merupakan danau yang dalam dan luas. Beberapa jam kemudian setelah air danau dikeruhkan, ada pula yang mengalirkan airnya kelain tempat, maka terdengarlah sorak sorai, diselingi dendang dan kelakar. Wanita�wanita asik mempermainkan tangguknya dengan hasil yang cukup memuaskan. Lebih heboh dan meriah lagi beberapa orang wanita Seolah�olah dipermaikan seekor ikan yang agak besar. Beberapa kali masuk tangguk, buat sekian kalinya lolos kembali dan serentak di iringi dengan pekik serta sorak-sorai. Asik menangkap ikan yang tak obahnya Jinak�jinak merpati itu, tiba�tiba seorang wanita tersentuh kakinya pada suatu benda. Setelah dikeluarkan, semua saling kebingungan, sebab tidak tahu apa gerangan nama benda itu. Dikampung Karang Besar benda ini ramai jadi buah mulut. Berbagai pendapat dan penjelasan yang simpang siur belaka. Ada yang mengatakan sekedar aneh ada pula yang mengatakan benda keramat. Kesimpulanya diserahkan pada Datuk Benduharo dan oleh beliau dibawa pada suatu kerapatan untuk mendengar pendapat orang cerdik pandainya.Salah seorang dari semenanjung Malaya, Negeri Sembilan menjelaskan, bahwa benda itu biasa dibawa orang dalam kapal layar untuk pemberi tanda atau Isyarat�isyarat bila perlu dipukul, dan namanya ialah Gong. Demikianlah untuk pertama kalinya di Karang Besar Gong tersebut dipalu silih berganti. Diluar dugaan, seluruh penduduk berdatangan kerumah datuk Benduharo, sebab bunyi Gong terdengar sekitar atau sepelembang Karang Besar. Peristiwa ini sungguh mengherankan dan bagaimanapun sebahagian besar penduduk beranggapan benda Sakti. Apakah ini benar dari peninggalan kapal layar tatkala sungainya masih dalam dan sebahagian tanah dalam arti kata belum beku. Bagai manapun Gong ini dijadikan bukti Kenang�kenangan dan disimpan Baik�baik. Tempatnya sengaja dibuat dalam lingkaran anyaman rotan halus oleh tukang yang terpandai. Keranjang tempat sarang dari rotan ini bernama Kudai. Semenjak itu dengan kata sepakat danau/bencah tempat yang beriwayat itu diberi nama Paya Ogung [Karang Julu atau Desa harang julu, Danau paya Ogung padang lawas sekarang]. Gong sesuai menurut peristiwanya sewaktu dipalu kedengaran sekitar atau selembang Karang Besar, Maka dinamailah Selembang Karang [Selimang Karang]. Perkampungan karang besar adalah dari kisah memudiki Sungai Rokan, pindah dari sutu tempat kesatu tempat sampai kehulu batang sosoh, kemudian lama berhenti. Perpindahan kehulu Berakhir ibaratkan kapal berlayar terhenti atau kandas pada suatu karang besar, maka dinamakan karang besar. Setelah karang Besar ditinggalkan kembali pindah kehilir, maka oleh orang Mandahiling sekarang Karang Besar yang letaknya dalam daerah Barumun Tapanuli selatan [Palas]-Karang besar dinamakan Negeri Hapung. Sultan Abdullah naik tahta susunan dan gelaran orang Besarnya. yaitu Datuk Mangkudum Sakti, dan seorang Datuk Setia Maharaja, dan seorang Sendaro Raja, dan seorang Datuk Maja Angsa Itulah adanya. Akan tetapi melihat keadaan perkembangan baru dan kebulatan mufakat, maka Negeri Karang Besar ditinggalkan. Perpindahan keseluruhannya terjadi, menghiliri batang Sosah dan menetap dimuara anak sungai yang sekarang bernama Kampung Kuala Tambusai. Diantara tiga orang putra Raja, dua perempuan bernama Paduko Siti dan Mercu Alam. Seorang Laki�laki bernama Sultan Syaifuddin itulah yang menggantikan ayahnya, dimuara anak sungai Kampung Tambusai ini pun tidak menjadi ketetapan dan kemudian pindah lagi kenegeri Lama agak kehilir jarak 3 km sebelah Barat Negeri Dalu�dalu sekarang. Sejak menetap disebelah Barat Dalu�dalu oleh Raja dan kerapatan menjadi suatu acara penting, bahwa hidup Berpindah�pindah banyak menimbulkan kerugian. Sedapat Mungkin tidak terulang lagi, hidup berkumpul, pindah dan berkumpul lagi, Maka dikatakan �TAMBUSAI�.
Tambun = berhimpun [Berkumpul]
Usai = Pindah/bersebar [Selesai bersebar]
Dalu-dalu = Nama pohan kayu yang banyak tumbuh disepanjang sungai batang sosah.
Dengan sendirinya Pengalaman�pengalaman sedemikian adalah Tambun-usai hingga penduduknya bernama orang Tambusai. Perkampungan pertama sesudah meninggalkan karang besar itulah dimuara anak sungai sekarang Kampung Tambusai. Luhak Tambusai adalah kesatuan masyarakat hukum Adat Melayu Tertua di antara 5 (Lima) Luhak yang ada dalam Wilayah Administratif Pemerintahan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau yang merupakan kelanjutan dari Wilayah bekas Kerajaan Tambusai yang berpusat di Dalu-dalu. Dalam sejarahnya Kerajaan Tambusai memiliki 20 (Dua puluh) Raja yang memerintah sejak Tahun 850 M (17 Ramadhan 271 H) secara Turun-temurun dan berkesinambungan sampai masa Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah Geografis kesatuan masyarakat Hukum Adat Melayu Luhak Tambusai meliputi Kecamatan Tambusai dan Kecamatan Tambusai Utara Sekarang. Di sebelah selatan berbatas dengan kecamatan Rambah Hilir dan Bangun Purba (Luhak Rambah), di sebelah utara berbatas dengan Provinsi Sumatra Utara dan Kabupaten Rokan Hilir, disebelah Barat berbatas dengan Provinsi Sumatra Utara, sedangkan di sebelah Timur berbatas dengan Kecamatan Kepenuhan dan Kepenuhan Hulu (Luhak Kepenuhan). Adapun warga kesatuan Masyarakat Hukum Adat Melayu Luhak Tambusai ialah Masyarakat Asli Etnis/Suku Melayu yang terdiri dari 9 (Sembilan) Persukuan, 5 (Lima) Induk dan 1 (Satu) Keluarga Bangsawan. Bahwa kesatuan masyarakat Hukum Adat Melayu Luhak Tambusai keberadaannya SAH dan diakui. Adat Melayu Luhak Tambusai yang telah berjalan dan di praktekkan Secara Turun-Temurun yang berlandaskan pada Adat Lamo Pusaku Usang ��Adat Bersandingkan Sarak, Syarak Bersandingkan Kitabullah��. Selama pimpinan Sultan Syarifuddin dan kerapatan orang Besarnya membawa kemajuan pesat sekali. Kebijaksanaan dan kegiatan beliau memimpin rakyat, terbukti Negeri Lama segera ramai. Diantara penduduk yang sejak sekian lama hidup jauh mengasingkan diri membawa peruntungan kembali hidup berkampung halaman di Negeri Lama. Beliau adil lagi mashur, Orang�orang Besarnya bergelar Datuk Paduko Sendaro, Datuk Si Biji Rajo, Datuk Paduko Pahlawan dan Datuk Serimaharajo. Ketika itulah Ada perpecahan di Kerajaan Johor Malaya, hingga dau orang putra Raja dengan Pengikut�pengikutnya memasuki sungai Rokan, mereka menetap di Rokan Hilir, Negeri Siarang�arang setelah mendapat persetujuan Sultan Syarifuddin. Demikianlah Sultan Syarifuddin amalnya panjang, tapi umurnya pendek. Beliau mangkat tidak ada meninggalkan Putra.